KUDUS – Dalam upaya mendukung produktivitas kopi sebagai salah satu produk unggulan masyarakat di kawasan Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Tim Dosen dan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan program pengabdian masyarakat. Program bertajuk “Aplikasi Cycocel untuk Meningkatkan Produktivitas Kopi sebagai Produk Unggulan Masyarakat di Kawasan Gunung Muria, Kabupaten Kudus” ini berfokus pada dua metode utama, yaitu aplikasi zat pengatur tumbuh Cycocel dan teknik Grafting.
Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai oleh Dr. Desy Setyaningrum, S.P., M.P., bersama anggota tim Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.SI., IPM, ASEAN Eng., APEC Eng., dan Andriyana Setyawati, S.P., M.P., Ph.D., melaksanakan program pemberdayaan untuk meningkatkan produktivitas kopi di kawasan Gunung Muria, Kabupaten Kudus. Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat pada tahun 2025. Program ini dilatarbelakangi oleh penurunan produksi kopi di Kudus yang mencapai hampir 40% pada tahun 2024. Penurunan ini disebabkan oleh musim hujan yang lebih panjang, yang menggugurkan bunga dan buah, serta usia tanaman yang tua yang mengakibatkan berkurangnya jumlah buku produktif. Untuk mengatasi masalah ini, tim UNS memperkenalkan solusi melalui aplikasi Cycocel dan teknik peremajaan tanaman dengan grafting (sambung). Kegiatan diawali dengan sosialisasi Cycocel yang dihadiri oleh 25 petani. Hasilnya, 100% petani yang hadir belum mengetahui tentang Cycocel. Sosialisasi dilakukan dengan penyampaian materi, penjelasan dosis, waktu, dan keamanan aplikasi. Setelah sosialisasi, 50% petani masih ragu untuk mencoba Cycocel, menunjukkan perlunya bukti hasil penelitian. Untuk mengatasi keraguan ini, tim melanjutkan dengan pelatihan dan demonstrasi aplikasi Cycocel di kebun kopi percontohan. Mereka menunjukkan dosis yang tepat, yaitu 5-10 mL Cycocel (setara 500-1000 ppm), dan waktu aplikasi yang ideal, yaitu pagi atau sore hari.
Hasil dari sosialisasi dan demonstrasi ini menunjukkan bahwa 60% petani memiliki pemahaman tinggi tentang Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) secara umum. Pemahaman spesifik tentang Cycocel juga meningkat, dengan 52% petani memiliki pemahaman tinggi dan 36% memiliki pemahaman cukup tentang fungsi dan manfaatnya. Sebanyak 56% petani memiliki pemahaman tinggi dan 40% memiliki pemahaman cukup tentang cara aplikasinya. Selain Cycocel, tim juga melatih petani dalam teknik grafting atau sambung, yaitu teknik perbanyakan vegetatif yang menggabungkan batang bawah (rootstock) dengan perakaran kuat dan batang atas (entres) dari varietas unggul. Pelatihan mencakup dua jenis grafting, yaitu sambung pucuk dan sambung sisip. Dengan menggabungkan metode sosialisasi materi dan demonstrasi lapangan, program ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi teknologi pertanian di kalangan petani. Diharapkan, penerapan teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas kopi di kawasan Gunung Muria dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Program ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen UNS dalam berkontribusi pada pembangunan masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Diharapkan, ilmu yang dibagikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para petani sehingga kesejahteraan mereka meningkat dan kopi Kudus kembali menjadi produk unggulan yang membanggakan.



